Pontianak, ZONA Kalbar.id — Fenomena kulminasi matahari atau yang dikenal sebagai hari tanpa bayangan kembali terjadi di Kalimantan Barat. Peristiwa astronomi ini menjadi momen khas yang menempatkan Kota Pontianak sebagai salah satu titik unik di dunia karena berada tepat di garis khatulistiwa.
Kulminasi matahari terjadi ketika posisi matahari berada tepat di atas kepala pengamat atau di titik zenit. Pada saat itu, bayangan benda yang berdiri tegak lurus tampak menghilang karena jatuh tepat di bawah benda tersebut.
Fenomena ini tidak hanya menjadi daya tarik ilmiah, tetapi juga memiliki nilai wisata yang tinggi. Setiap tahun, masyarakat dan wisatawan kerap berkumpul di kawasan Tugu Khatulistiwa untuk menyaksikan momen tersebut secara langsung.
Sejumlah fakta menarik menyertai peristiwa kulminasi matahari di wilayah Kalimantan Barat. Pertama, pada puncak kulminasi, bayangan benda benar-benar tampak menghilang, menciptakan pengalaman visual yang jarang ditemui di wilayah lain.
Kedua, fenomena ini tidak hanya terjadi sekali dalam setahun, melainkan dua kali, umumnya pada periode 21–23 Maret dan kembali terulang pada 21–23 September.
Ketiga, kondisi suhu udara saat kulminasi cenderung lebih panas dibandingkan hari biasa. Hal ini disebabkan sinar matahari jatuh secara vertikal sehingga energi panas yang diterima permukaan bumi menjadi lebih maksimal.
Selain itu, kulminasi matahari juga kerap dimanfaatkan masyarakat untuk melakukan eksperimen sederhana, seperti mendirikan telur secara tegak. Fenomena ini sering dianggap sebagai bagian dari tradisi unik yang menyertai peristiwa tersebut.
Secara ilmiah, kulminasi terjadi akibat pergerakan semu tahunan matahari yang melintasi garis khatulistiwa. Wilayah yang berada di sekitar garis lintang nol derajat, seperti Pontianak, mengalami fenomena ini secara lebih khas dibandingkan daerah lain.
Pemerintah daerah melihat kulminasi matahari bukan sekadar fenomena alam, tetapi juga sebagai identitas daerah sekaligus potensi wisata unggulan. Kehadiran wisatawan setiap peringatan kulminasi dinilai turut memberikan dampak positif bagi sektor ekonomi lokal.
Fenomena ini pun menjadi pengingat akan kekayaan alam Indonesia di wilayah tropis, sekaligus memperkuat posisi Pontianak sebagai Kota Khatulistiwa yang memiliki karakteristik geografis yang unik di tingkat global.
(Red)
