Pontianak, ZONA Kalbar.id — Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak memasuki babak baru kepemimpinan. Dalam acara pisah sambut rektor yang digelar Kamis, 13 Agustus 2026, Rektor terpilih Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag. menegaskan komitmennya mempercepat proses alih status IAIN Pontianak menjadi universitas.
Acara tersebut dihadiri Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI sekaligus Pelaksana Tugas Rektor IAIN Pontianak, Prof. Dr. M. Arskal Salim GP., M.Ag., Inspektur II Kementerian Agama RI Dr. M. Ali Irfan, SE., MM., M.Ak., serta jajaran pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan civitas akademika IAIN Pontianak.
Selain pisah sambut, kegiatan dirangkai dengan pembinaan pegawai yang disampaikan oleh Dr. M. Ali Irfan.
Dalam sambutannya, Prof. Arskal menyampaikan sejumlah agenda yang perlu menjadi perhatian Wajidi pada 100 hari pertama kepemimpinannya. Ia meminta rektor baru mengawali kepemimpinan dengan konsolidasi internal.
“Tidak ada lagi soal kubu ini, kubu itu. Semuanya adalah warga IAIN Pontianak,” kata Arskal.
Menurut dia, konsolidasi diperlukan agar seluruh unsur kampus bergerak dalam arah yang sama. Setelah itu, rektor perlu meninjau kembali program-program strategis yang telah berjalan.
Program yang memiliki potensi besar, kata Arskal, perlu dipertahankan dan dikembangkan menjadi program unggulan atau mercusuar bagi IAIN Pontianak.
Ia juga meminta dilakukan pemetaan terhadap persoalan-persoalan kritis kampus, termasuk kondisi sumber daya manusia, jumlah dosen bergelar doktor, akreditasi program studi, serta persoalan kemahasiswaan.
Pemetaan tersebut dinilai penting untuk menentukan skala prioritas penyelesaian masalah. Rektor juga diharapkan menetapkan program yang realistis untuk dituntaskan dalam waktu singkat sebelum menyusun peta jalan pengembangan institusi selama empat tahun masa kepemimpinan.
Sementara itu, Prof. Wajidi menempatkan alih status menjadi universitas sebagai salah satu agenda utama kepemimpinannya. Ia mengatakan salah satu persyaratan penting yang harus dipenuhi adalah ketersediaan lahan.
Wajidi menyatakan akan menggandeng pemerintah daerah untuk memenuhi kebutuhan lahan tersebut. Menurut dia, sudah ada titik terang mengenai lokasi yang dibutuhkan untuk mendukung proses alih status.
“Untuk kebaikan kita bersama, untuk IAIN Pontianak yang semakin maju ke depannya, kami sangat berharap dukungan sepenuhnya, doa, dan ikhtiar bersama,” ujarnya.
Ia mengatakan perubahan status menjadi universitas tidak dapat dikerjakan sendiri oleh pimpinan kampus. Dukungan civitas akademika, pemerintah daerah, dan Kementerian Agama diperlukan agar proses tersebut berjalan.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembinaan pegawai oleh Dr. M. Ali Irfan. Pembinaan tersebut diarahkan untuk memperkuat profesionalisme, integritas, serta semangat kerja pegawai dalam mendukung pengembangan institusi.
Pergantian kepemimpinan di IAIN Pontianak diharapkan menjadi momentum konsolidasi sekaligus memperkuat program strategis kampus. Salah satu target besarnya adalah mempercepat langkah menuju perubahan status menjadi universitas.
(ril)





