Suasana Meriah Pembukaan Gawai Adat Dayak Sanggau ke-21: Panggung Kebudayaan yang Menyatukan

Gambar Gravatar
Oplus_0

Sanggau, ZONA Kalbar.id – Rumah Betang Dori’ Mpulor di Desa Sungai Mawang, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau, berubah menjadi pusat semarak budaya pada Senin (7/7). Ribuan masyarakat adat berkumpul dengan antusias menyaksikan pembukaan Gawai Dayak Nosu Minu Podi ke-XXI, sebuah perayaan tahunan yang menjadi simbol kebersamaan, pelestarian tradisi, dan kebanggaan identitas Dayak.

Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, didampingi Bupati Sanggau Yohanes Ontot dan Wakil Bupati Susana Herpena, secara resmi membuka gawai yang tahun ini menampilkan ragam keunikan. Mulai dari prosesi ritual adat, parade kontingen berkostum tradisional dengan hiasan manik dan bulu enggang, hingga pertunjukan musik dan tarian khas yang membangkitkan nostalgia masa lampau.

Wakil Gubernur Kalbar, Kerisantus bersama Paulos Hadi dan Tokoh Adat Kabupaten Sanggau.

Dalam sambutannya, Krisantus menekankan pentingnya adaptasi budaya di era digital. “Di tengah pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, kita sebagai orang Dayak harus mampu menyesuaikan diri. Jika tidak, kita akan menjadi suku yang tergerus zaman,” ujarnya di hadapan peserta yang memenuhi pelataran betang.

Wagub memuji pelaksanaan gawai yang dinilainya semakin matang dan rapi. Ia menyoroti tingginya antusiasme kontingen dari berbagai kecamatan yang datang dengan keberagaman pakaian adat dan semangat persatuan. “Saya melihat kemajuannya sungguh luar biasa. Tata cara pelaksanaannya sudah tertata dengan baik. Ini menjadi bukti bahwa kita serius menjaga budaya,” tambahnya.

Bupati Sanggau Yohanes Ontot dalam kesempatan yang sama mengingatkan, keberlanjutan budaya Dayak bukan hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga komitmen masyarakat adat sendiri. “Yang paling fundamental dari gawai ini adalah kesungguhan masyarakat adat dalam merawat warisan leluhur,” ujar Ontot.

Ia menegaskan bahwa mengurus kebudayaan tidak boleh dilakukan secara setengah hati atau terpisah-pisah. “Kalau parsial, dengan derasnya globalisasi dan teknologi komunikasi, adat budaya bisa hilang. Gawai ini menjadi ruang penyatuan dan penguatan kebersamaan,” katanya.

Suasana pembukaan yang penuh warna semakin terasa ketika dentuman musik gong dan tiupan suling bambu mengiringi prosesi masuk tamu kehormatan. Anak-anak hingga orang tua tampak larut dalam kegembiraan. Stand kerajinan tangan, pameran kuliner tradisional, dan lomba kesenian menjadi magnet bagi pengunjung.

Di balik perayaan yang meriah, Gawai Nosu Minu Podi ke-XXI juga mengandung pesan mendalam: mempertahankan jati diri dan memastikan budaya Dayak tetap lestari di generasi mendatang. “Saya ingatkan warga Dayak harus konsisten, mau dan mampu menjaga serta melestarikan adat istiadat dan budayanya. Jika tidak, identitas kita akan luntur,” pungkas Bupati Ontot.

Gawai akan berlangsung beberapa hari ke depan dengan agenda lomba tradisional, ritual adat, hingga pertunjukan seni yang menjadi kebanggaan Kabupaten Sanggau. (Butun)

Baca Juga: Ritual Pembuka Nosu Minupodi XXI di Sanggau Berlangsung Khidmat, Polres Pastikan Situasi Kondusif

Penulis

  • ZONA Kalbar.id

    Zona Kalbar.id adalah media online yang menyajikan berita terkini dan terpercaya, segala informasi terkomfirmasi dengan jelas dan lugas.

Pos terkait

Iklan ZONA Kalbar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar