PONTIANAK, ZONA Kalbar — Ikatan Konselor Adiksi Indonesia (IKAI) Kalimantan Barat membentuk Tim Ad Hoc sebagai bagian dari upaya memperkuat konsolidasi internal dan menyusun arah kerja organisasi yang lebih terukur.
Agenda pembentukan tim tersebut berlangsung di Nutricula Café, Jalan M. Sohor, Pontianak, pada Minggu malam, 14 September 2026.
Peserta pembentukan Tim Ad Hoc IKAI Kalimantan Barat, Muhammad Zulfikar, mengatakan tim tersebut diharapkan menjadi fondasi awal bagi penguatan tata kelola organisasi. Menurut dia, pembentukan tim bukan sekadar agenda administratif, melainkan bagian dari proses menyatukan perspektif, memetakan kebutuhan, dan merumuskan kerangka kerja organisasi.
“Pembentukan Tim Ad Hoc ini merupakan bagian dari proses konsolidasi untuk menyatukan perspektif, memetakan kebutuhan organisasi, dan merumuskan kerangka kerja yang lebih terukur,” ujar Muhammad Zulfikar.
Ia mengatakan hasil konsolidasi perlu diterjemahkan menjadi program yang konkret dan berdampak. Karena itu, komunikasi antarelemen organisasi, pembagian peran, serta kesinambungan program menjadi hal penting dalam pelaksanaan agenda IKAI Kalimantan Barat.
Menurut Zulfikar, organisasi yang kuat tidak cukup hanya memiliki struktur kelembagaan. Organisasi juga harus mampu merespons kebutuhan masyarakat secara profesional melalui pengelolaan program yang konsisten dan berbasis kebutuhan.
“Organisasi yang kuat bukan hanya ditentukan oleh struktur yang terbentuk, tetapi juga oleh kemampuan mengelola program, membangun kolaborasi, dan memastikan setiap keputusan memiliki orientasi yang jelas,” katanya.
Ia menilai pembentukan Tim Ad Hoc dapat menjadi instrumen untuk memetakan kebutuhan strategis, menyusun kerangka kerja, dan memperkuat sinergi operasional organisasi. Proses tersebut, kata dia, perlu menghasilkan gagasan serta arah kebijakan yang memiliki orientasi jelas.
“Konsolidasi organisasi pada prinsipnya bukan sekadar mempertemukan unsur-unsur di dalamnya, tetapi bagaimana forum tersebut mampu melahirkan konstruksi pemikiran, arah kebijakan, dan program kerja yang memiliki orientasi jelas,” ujar Zulfikar.
Ia berharap tim yang dibentuk bekerja secara objektif, profesional, dan berbasis kebutuhan organisasi. Setiap gagasan yang dihasilkan, menurut dia, harus memiliki kesinambungan dengan program kerja dan memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan kelembagaan.
Zulfikar juga menekankan pentingnya kesamaan perspektif, integritas, dan kerja kolektif dalam membangun organisasi yang adaptif terhadap dinamika persoalan di Kalimantan Barat.
“Organisasi membutuhkan visi yang sama, tetapi visi tersebut harus dibangun melalui proses dialog dan kerja kolektif. Dengan demikian, keputusan yang dihasilkan tidak hanya legitimate secara organisasi, tetapi juga memiliki basis pemikiran yang kuat,” katanya.
Pembentukan Tim Ad Hoc IKAI Kalimantan Barat diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat konsolidasi internal, memetakan program strategis, serta membangun pola kerja organisasi yang lebih terstruktur, efektif, dan berkelanjutan.
(ril)





