Sanggau, ZONA Kalbar.id — Otoritas keamanan wilayah perbatasan memperkuat pengawasan pada jalur tidak resmi yang kerap dimanfaatkan penyelundup di wilayah Entikong, Kabupaten Sanggau. Lonjakan mobilitas warga menjelang Natal dan Tahun Baru dinilai membuka celah pelanggaran lintas batas.
Koordinasi lintas instansi digelar di Koramil Entikong, Kamis (4/12), melibatkan TNI, Polri, Bea Cukai, Karantina Perikanan, perangkat desa, tokoh adat, serta perwakilan pelaku usaha lokal.
Danramil Entikong Kapten Inf Wasidi menegaskan bahwa jalur tikus masih menjadi tantangan utama yang harus diatasi secara terpadu.
“Aktivitas keluar masuk barang di jalur tidak resmi masih terjadi. Celah ini harus ditutup melalui sinergi yang lebih kuat,” ujar Kapten Wasidi.
Menurutnya, pengawasan tidak hanya menyasar barang komersial bernilai tinggi, tetapi juga barang konsumsi yang keluar masuk tanpa prosedur.
Wakapolsek Entikong, AKP Mujiyono menilai peningkatan patroli dan pertukaran informasi antarinstansi perlu dipercepat.
“Pola penyelundupan beradaptasi dengan situasi. Menjelang hari besar keagamaan, pelanggaran kerap menyatu dengan aktivitas masyarakat,” kata Mujiyono. “Pendekatannya bukan semata penindakan. Kita kelola risiko ini tanpa menghambat arus barang legal warga.”
Dari sisi sosial ekonomi, Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Entikong Antonius Angeu mengingatkan bahwa perbedaan harga barang pokok mendorong warga berbelanja ke Malaysia.
“Kami berharap aturan ditegakkan, tapi kondisi ekonomi masyarakat juga dipertimbangkan,” ujar Antonius.
Bea Cukai Entikong menyatakan tetap mematuhi regulasi nasional, namun tidak menutup ruang kebijakan adaptif pada periode tertentu.
Perwakilan Seksi Penindakan Ridwan menegaskan.
“Kami mengedepankan prosedur. Tapi menjelang Natal, aspek kemanusiaan tetap menjadi perhatian sepanjang tidak melanggar aturan.”
Pemeriksaan karantina juga turut diperketat. Perwakilan Karantina Perikanan Awal menyoroti risiko barang biologi dari luar negeri yang tidak terawasi.
“Masuknya produk hewan tanpa pemeriksaan dapat membawa penyakit dan hama. Ini ancaman yang tidak terlihat,” ujarnya.
Sementara perwakilan pelaku usaha lokal Kiki meminta pemerintah memberi kebijakan transisi yang tidak membebani masyarakat.
“Warga hanya mencari harga terjangkau. Kami butuh kepastian aturan yang tetap memberi ruang pemenuhan kebutuhan,” katanya.
Pertemuan ini merumuskan langkah strategis untuk menekan penyelundupan melalui jalur tikus, antara lain dengan patroli intensif, pemetaan titik rawan baru, serta edukasi aktif kepada masyarakat perbatasan agar tidak terjebak dalam pelanggaran hukum.
Koordinasi berlapis antarinstansi disebut sebagai kunci menjaga stabilitas perbatasan Entikong memasuki musim liburan, ketika aktivitas lintas batas diprediksi melonjak tajam. (Butun)








