Sanggau, ZONA Kalbar.id – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Kembayan sejak dini hari, Jumat (29/1/2025), kembali memicu banjir besar di Dusun Jemongko Dalam, Desa Kuala Dua, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Meluapnya Sungai Sekayam menyebabkan genangan air dengan ketinggian mencapai 1 hingga 1,5 meter, merendam pemukiman warga dan melumpuhkan seluruh aktivitas harian masyarakat.
Sedikitnya 100 kepala keluarga (KK) terdampak banjir kali ini. Akses jalan utama desa terendam, sehingga kendaraan tidak dapat melintas. Warga yang sebagian besar mengandalkan aktivitas harian di luar rumah pun terpaksa menghentikan kegiatan mereka. Selain itu, banjir juga mengganggu operasional fasilitas umum, termasuk sekolah. SDN 28 Jemongko terpaksa menghentikan proses belajar mengajar karena jalan menuju sekolah terendam air. Siswa-siswi pun tidak dapat hadir, menambah daftar dampak dari bencana yang rutin terjadi di musim penghujan ini.
“Kami terpaksa bertahan di rumah karena jalan tak bisa dilewati. Kalau begini terus, kami bingung harus bekerja bagaimana,” ujar Antonius Jaya, salah seorang warga yang terdampak. Ia menyampaikan bahwa warga merasa frustrasi karena masalah banjir ini terus berulang tanpa solusi nyata dari pihak berwenang.
Antonius juga menambahkan bahwa pihaknya berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah untuk menangani masalah ini. “Kami berharap pihak kecamatan segera berkoordinasi dengan dinas terkait. Jangan hanya menunggu banjir datang baru bereaksi. Perlu ada langkah pencegahan agar kami tidak terus-menerus menjadi korban,” katanya dengan nada penuh harap.
Kondisi banjir diperparah dengan meningkatnya debit air kiriman dari wilayah Entikong dan Beduai. Warga menyebutkan bahwa genangan air di beberapa titik justru semakin tinggi pada siang hari, membuat sebagian rumah hampir tidak terlihat dari permukaan air. Warga kini hanya bisa mengandalkan perahu untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Selain itu, ancaman penyakit akibat banjir juga menjadi kekhawatiran masyarakat. Genangan air yang bercampur lumpur dan limbah rumah tangga mulai memunculkan aroma tidak sedap, memperbesar risiko penyebaran penyakit kulit dan infeksi saluran pernapasan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada bantuan resmi yang tiba di lokasi. Warga mengaku sudah berusaha menghubungi pihak terkait, tetapi respons yang diharapkan belum mereka terima. “Kami butuh bantuan, terutama kebutuhan pokok dan obat-obatan. Kalau banjir ini bertahan lama, kami tidak tahu bagaimana bertahan hidup,” ungkap salah seorang warga lainnya.
Banjir yang rutin terjadi setiap musim hujan ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah. Warga berharap adanya langkah konkret untuk menangani akar masalah, mulai dari pengerukan sungai hingga pembangunan sistem drainase yang lebih baik. Dengan begitu, mereka tidak lagi harus hidup dalam kekhawatiran setiap kali hujan turun.








