SANGGAU, ZONA Kalbar — Wakil Bupati Sanggau, Susana Herpena, mengingatkan generasi muda agar tidak terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba, pernikahan dini, putus sekolah, dan sikap intoleran. Ia menilai berbagai persoalan tersebut dapat menghambat potensi generasi muda sekaligus mengancam masa depan daerah.
Pesan itu disampaikan Susana saat membuka Seminar Moderasi Beragama bagi pelajar di lantai II Kantor Bupati Sanggau, Rabu, 21 Oktober 2026. Kegiatan yang digelar Pemerintah Kabupaten Sanggau bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) tersebut mengangkat tema “Membangun Generasi Milenial yang Berjiwa Moderasi untuk Sanggau yang Harmonis”.
Di hadapan para peserta, Susana menegaskan bahwa pelajar merupakan aset penting bagi pembangunan Kabupaten Sanggau. Karena itu, generasi muda perlu memiliki karakter kuat, wawasan luas, serta kemampuan menyikapi perbedaan di tengah perkembangan zaman.
“Anak-anakku, kalian adalah aset yang paling berharga bagi Sanggau. Jangan biarkan potensi luar biasa dalam diri kalian padam karena salah pergaulan,” ujar Susana.
Menurut dia, moderasi beragama bukan berarti mengurangi keyakinan seseorang terhadap agamanya. Moderasi justru mendorong umat menjalankan ajaran agama secara seimbang, menghormati perbedaan, bersikap terbuka, dan tetap menjaga kecintaan terhadap Tanah Air.
Susana mengatakan generasi muda memiliki peran penting dalam merawat kerukunan di tengah keberagaman masyarakat. Untuk itu, ia mengajak para pelajar menerapkan empat langkah dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, menggunakan media sosial secara bijak dengan memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya. Pelajar juga diminta tidak terlibat dalam penyebaran berita bohong, ujaran kebencian, maupun perundungan.
“Saring sebelum sharing. Gadget di tangan kalian harus menjadi alat untuk maju, bukan untuk menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, atau bullying yang memicu perpecahan,” katanya.
Kedua, memperluas interaksi lintas agama melalui dialog, kegiatan sosial, dan kolaborasi positif tanpa membedakan latar belakang keyakinan. Menurut Susana, ruang perjumpaan semacam itu dapat menumbuhkan sikap saling memahami dan menghormati.
Ketiga, menjaga kearifan lokal masyarakat Sanggau, terutama tradisi gotong royong, kebersamaan, dan saling menghargai. Nilai-nilai tersebut dinilai menjadi modal penting untuk mempertahankan keharmonisan di tengah perbedaan.
Keempat, fokus mengembangkan diri dengan menjauhi narkoba, menuntaskan pendidikan, serta merencanakan masa depan secara matang.
Susana berharap seminar tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu mendorong pelajar menerapkan nilai moderasi beragama dalam pergaulan dan kehidupan bermasyarakat.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat menyelaraskan upaya menjaga kerukunan dengan agenda pembangunan nasional dan visi daerah.
“Mari kita jadikan perbedaan sebagai pelangi yang memperindah kebersamaan di Sanggau. Dengan menyelaraskan langkah kita pada Asta Cita Presiden, Peraturan Presiden tentang moderasi beragama, serta visi daerah, mari kita wujudkan Sanggau yang harmonis, maju, dan berdaya saing,” ujar Susana.
(Butun)





