Sanggau, ZONA Kalbar.id — membenarkan adanya peningkatan kasus suspek chikungunya di Kecamatan Kapuas sejak April 2026. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus itu ditandai dengan gejala utama berupa demam tinggi disertai nyeri sendi hebat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sanggau mengatakan, tim surveilans telah turun langsung ke lapangan untuk melakukan verifikasi serta pendataan kasus.
Baca Juga: Demam Chikungunya Diduga Mulai Merebak di Sanggau, Sejumlah Anak Alami Demam Tinggi dan Nyeri Sendi
“Betul, ada peningkatan kasus suspek chikungunya di Kecamatan Kapuas sejak April 2026. Gejala utama yang ditemukan berupa demam tinggi dan nyeri sendi hebat. Tim surveilans Dinkes sudah turun melakukan verifikasi dan pendataan kasus,” ujarnya pada Senin, 18 Mei 2026.
Menurutnya, penanganan chikungunya saat ini difokuskan pada pengobatan gejala, pemberantasan sarang nyamuk, dan fogging fokus di wilayah tertentu. Pasien yang mengalami gejala diarahkan menjalani pengobatan di puskesmas maupun rumah sakit dengan pemberian obat penurun panas dan pereda nyeri.
Ia menjelaskan, hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk chikungunya. Karena itu, masyarakat diminta memperbanyak istirahat dan konsumsi air putih guna membantu proses pemulihan.
Selain penanganan medis, Dinkes Sanggau juga mengintensifkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk melalui pola 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Warga juga dianjurkan menggunakan abate, kelambu, obat antinyamuk, serta menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah.
Kabid P2P Dinkes Sanggau menambahkan, fogging fokus dilakukan di wilayah yang ditemukan lebih dari lima kasus dalam satu RT atau RW guna memutus rantai penularan.
Saat ini, Tim P2P Dinkes Sanggau disebut telah melakukan penyelidikan epidemiologi dan fogging fokus di sejumlah desa dengan jumlah kasus terbanyak di Kecamatan Kapuas. Selain itu, distribusi abate dan leaflet edukasi juga dilakukan melalui puskesmas setempat.
Dinas Kesehatan juga berkoordinasi dengan camat, kepala desa, dan kader kesehatan untuk menggelar gerakan pemberantasan sarang nyamuk secara serentak setiap pekan. Pemantauan kasus harian turut dilakukan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) guna memastikan penanganan cepat apabila terjadi peningkatan kasus.
Masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi disertai nyeri sendi hebat. Warga juga diminta rutin memeriksa lingkungan rumah agar tidak terdapat genangan air maupun jentik nyamuk yang berpotensi menjadi sumber penularan penyakit.
(Butun)
Baca Juga; DPRD Sanggau Desak Pemkab Tepati Janji Pembangunan Rumah Adat Melayu

