SANGGAU, ZONA Kalbar — Pemerintah Kabupaten Sanggau mengalihkan status tanggap darurat bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menjadi transisi darurat pemulihan, mulai Senin, 21 September 2026.
Keputusan itu diambil dalam rapat evaluasi status tanggap darurat yang digelar di Ruang VIP Sabang Merah, Kantor Bupati Sanggau. Rapat dipimpin Wakil Bupati Sanggau Susana Herpena dan dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, organisasi perangkat daerah, serta instansi terkait.
Susana mengatakan pengalihan status dilakukan setelah Satgas Tanggap Darurat Karhutla bekerja hampir sebulan menangani kebakaran dan dampak kabut asap di wilayah Sanggau.
Menurut dia, kondisi hotspot di Sanggau berhasil ditekan. Namun, perubahan status tersebut bukan berarti penanganan Karhutla dihentikan.
“Sinergi kerja Satgas tetap berlanjut serta tetap mengutamakan keselamatan dan kesehatan masyarakat di atas segalanya,” kata Susana.
Ia mengatakan akan ada rapat lanjutan untuk membahas langkah selama masa transisi pemulihan. Pemerintah juga meminta masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan saat beraktivitas di luar rumah.
Susana mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan. Pemerintah masih mencatat lebih dari 500 hektare lahan petani yang belum dibakar sehingga membutuhkan pengawasan bersama untuk mencegah munculnya titik panas baru.
“Walaupun transisi, protokol kesehatan wajib kita patuhi dan kami minta jangan membakar lahan dulu sementara,” ujarnya.
Pengalihan status tanggap darurat juga berkaitan dengan dampak Karhutla terhadap aktivitas masyarakat dan pemerintahan. Sejumlah kegiatan publik sempat mengalami pembatasan selama kondisi kabut asap, dengan dampak terhadap sektor ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.
Susana meminta jajaran pemerintah daerah, aparat, serta masyarakat tetap melakukan pengawasan terhadap potensi kebakaran. Ia menegaskan masa transisi tidak boleh dimaknai sebagai tanda bahwa persoalan Karhutla telah sepenuhnya selesai.
“Status tanggap darurat ini kita alihkan ke transisi, bukan berarti kita sudah di posisi baik. Tentunya dampaknya masih banyak,” kata Susana.
Pemerintah Kabupaten Sanggau selanjutnya akan melanjutkan penanganan melalui tahapan pemulihan dengan tetap memperhatikan kondisi hotspot, kualitas udara, kesehatan masyarakat, serta potensi kebakaran lahan.
(Butun)





