Sanggau, ZONA Kalbar.id – Kasus chikungunya di Kabupaten meningkat dalam lima bulan terakhir. Dinas Kesehatan setempat mencatat 55 kasus terjadi sepanjang Januari hingga Mei 2026.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan, Marlina, mengatakan kasus terbanyak ditemukan di wilayah Tanjung Sekayam. “Terdiri dari Tanjung Sekayam ada 24 kasus, Rumah Sakit Sentra Medika ada 1 kasus. Total suspect ada 80 kasus,” kata Marlina, Kamis, 21 Mei 2026.
Menurut dia, lonjakan kasus mulai terlihat sejak pekan pertama April 2026. Puskesmas Sanggau dan Tanjung Sekayam menjadi wilayah dengan temuan kasus tertinggi.
Meski terjadi peningkatan, Marlina menegaskan kondisi tersebut belum masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB). Hingga kini, belum ditemukan laporan kematian akibat chikungunya di wilayah tersebut.
Ia menjelaskan, chikungunya merupakan penyakit akibat infeksi virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, serupa dengan penyebaran demam berdarah dengue (DBD). Karena itu, langkah pencegahan utama dilakukan melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
“Pencegahannya lebih pada pemberantasan sarang nyamuk,” ujarnya.
Chikungunya memiliki masa inkubasi sekitar satu hingga empat hari. Penyakit ini umumnya bersifat self-limiting atau dapat sembuh sendiri, dengan gejala akut berlangsung antara tiga hingga sepuluh hari.
Gejala yang paling sering dirasakan penderita ialah demam mendadak disertai nyeri pada persendian, terutama di bagian lutut, pergelangan tangan, jari kaki, tangan, hingga tulang belakang. Selain itu, penderita juga dapat mengalami ruam pada kulit.
Nyeri sendi akibat chikungunya bahkan dapat bertahan selama beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah demam mereda.
(Butun)
